Sebuah Upaya perdamaian


Sebuah upaya perdamaian yang disusulkan oleh Moch.Hatta, aku dan Dr.Leimena menjalankan misi yang penting ini, perjalanan yang panjang ini kami jalani untuk mencapai sebuah perdamaian, kami berjalan, berlari hingga mengarungi lautan yang luas untuk memenuhi misi kami.

            Di siang hari yang cerah pada tahun 1950 aku dipanggil oleh pemerintah ke Djakarta dengan sebuah surat, awalnya aku tidak mengetahui apa yang akan terjadi saat surat dari Djakatra datang ke kotak posku surat itu dikirim langsung oleh perdana mentri Moh.Hata, apa yang diinginkan pemerintah dari orang pedesaan kumuh yang hanya tau cara berkelahi?, dengan pikiran yang kacau aku pergi ke Djakarta pada sore hari itu juga,dengan menggunakan kereta aku sampai di djakarta pada dini hari, akua langsung mencari penginapan terdekat ke kantor pemerintahan dan brusaha untuk beristirahat wlaupun aku gagal beristirahat karena sangat gugup.

            Pagi itu ku bersiap-siap pergi ke kantor pemerintah di pusat kota untuk memenuhi panggilan itu aku merapihkan dasiku dan berkaca di depan cermin menata jasku kembali agar terlihat lebih rapih,aku juga menggunakan minyak rambut agar terlihat klimis dan “kekotaan” agar sisi kampungku tidak terlihat bis-bisa aku dicemooh saat datang ke kantor pemerintah nanti.Setelah siap dan rapih akupun keluar penginapan dan menunggagi delman untuk pergi ke kantor pemerintah kota, dengan menggunakan delman akhirnya aku sampai di depan pemeritah kota Djakarta, tangan ku basah dengan keringat, punggungku pun basah oleh keingat karena gugup, aku berjalan ke pintu masuk pemerintah dengan gugup, aku di persilahkan masuk oleh salah satu penjaga di sana aku di suruh untuk menunggu di sebuah ruangan, di ruangan itu telah ada beberapa orang yang sedang menunggu, mungkin keperluan mereka sama denganku tetapi aku terlalu takut untuk bertanya kepada salah satu dari mereka.

            Kami di ruangan itu diberi secangkir teh untuk diminum sambil menunggu arahan selamjutnya, saat aku sedang menyeruput teh hangat itu tiba-tiba datang seseorang yang terlihat pintar ke dalam ruangan itu, ia memakai kacamata dengan rambut klimis rapih, menggunakan kemeja putih Kotak-kotak, ia berperawakan kecil dengan kulit cokelat khas orang ambon, ia pun pun berbicara kepada temanhya yang ikut masuk bersamnaya saat itu dengan bahasa ambon, aku tahu itu bahasa ambon karena aku pernah ditugaskan di ambon saat perang dulu, walaupun hanya sebentar tetapi waktu itu cukup untukku untuk belajar sedikit bahasa ambon, seorang penjaga  datang kepada mereka dan menyambut dengan hangat dan sopan setelah menguping apa yang mereka bicarakan orang dengan rambut klimis dan baju kotak itu ternyata ia adalah Dr.Johannes leimena ia merupakan salah seorang tokoh politik yang sangat di percaya oleh presiden Soekarno dan Moh.Hatta.

 Dr. Leimena berasal dari Ambon, Maluku, sebagai seorang beragama Kristen dan berorang tua guru. Sebagai seorang anak-anak, ia pindah ke Cimahi dan belakangan Batavia untuk mengejar ilmu. Ia turut serta dalam pergerakan kebangkitan nasional, sebagai anggota Jong Ambon dan sebagai panitia Kongres Pemuda Pertama dan Kedua.

            Dr. Leimeina dilahirkan di Kota Ambon. Pada tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) dimana ia meneruskan studinya di ELS (Europeesch Lagere School), namun hanya untuk beberapa bulan saja lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Dari sini ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen, kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) - cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Keprihatinan Dr. Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada "Gerakan Oikumene". Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Leimena terus mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk pada tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.

Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu.

Setelah menempuh pendidikan kedokterannya di STOVIA Surabaya (1930), ia melanjutkan pendidikan di Geneeskunde Hogeschool (GHS - Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 1939. Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Dr. Leimena mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930. Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di "CBZ Batavia" (kini RS Cipto Mangunkusumo). Tak lama ia dipindahtugaskan di Karesidenan Kedu saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Immanuel Bandung. Di rumah sakit ini ia bertugas dari tahun 1931 sampai 1941.

Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) terbentuk dan pada tahun 1950, ia terpilih sebagai ketua umum. Selain di Parkindo, Dr. Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia).

Dan sekarang seseorang sebegitu penting berada di hadapanku, aku hampir menjatuhkan cangkir teh ku karena kaget, gawat sekali kalau teh itu jatuh pasti aku akan ditertawakan oleh semua orang dalam ruangan itu karena kikuk.

Setelah kedantangan Dr. Leimena kami langsung di suruh untuk berpindah ruangan, kami diarahkan untuk pergi ke sebuah ruangan kecil yang terdapat di belakan kantor pemerintahan, di sana kami bertemu dengan presiden Soekarano dan Moh.Hatta

 Aku kaget setengah mati karena dihadapan ku sekarng ada presiden indonesia beserta wakilnya, Dr.(H.C.) Ir. H. Soekarno adalah Presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1945–1967. Ia adalah seorang tokoh perjuangan yang memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.

Soekarno lahir dengan nama Kusno yang diberikan oleh orangtuanya. Akan tetapi, karena ia sering sakit maka ketika berumur sebelas tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya.Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna. Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".

Di kemudian hari ketika menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda)[7]:32. Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah. Sebutan akrab untuk Soekarno adalah Bung Karno.

Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali.[5] Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir. Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya, Jawa Timur.

Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama H.O.S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Darsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.

 

 

Tamat HBS Soerabaja bulan Juli 1921, bersama Djoko Asmo rekan satu angkatan di HBS, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1921 setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun 1922 mendaftar kembalidan tamat pada tahun 1926 Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 25 Mei 1926 dan pada Dies Natalis ke-6 TH Bandung tanggal 3 Juli 1926 dia diwisuda bersama delapan belas insinyur lainnya. Prof. Jacob Clay selaku ketua fakultas pada saat itu menyatakan "Terutama penting peristiwa itu bagi kita karena ada di antaranya 3 orang insinyur orang Jawa".Mereka adalah Soekarno, Anwari, dan Soetedjo, selain itu ada seorang lagi dari Minahasa yaitu Johannes Alexander Henricus Ondang.

Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto.Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Soekarno untuk pertama kalinya menjadi terkenal ketika dia menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya pada tahun 1915. Bagi Soekarno sifat organisasi tersebut yang Jawa-sentris dan hanya memikirkan kebudayaan saja merupakan tantangan tersendiri. Dalam rapat pleno tahunan yang diadakan Jong Java cabang Surabaya Soekarno menggemparkan sidang dengan berpidato menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar). Sebulan kemudian dia mencetuskan perdebatan sengit dengan menganjurkan agar surat kabar Jong Java diterbitkan dalam bahasa Melayu saja, dan bukan dalam bahasa Belanda.

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy. Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin dan di pengadilan Landraad Bandung 18 Desember 1930 ia membacakan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.

Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu, ia baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Dan sekarang beliau berada di hadapanku beserta dengan perdana menteri pertamma indonesia yaitu Moh.Hatta, Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta adalah negarawan dan ekonom Indonesia yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pertama. Ia bersama Soekarno memainkan peranan sentral dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945.

Mohammad Hatta lahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha yang berasal dari Minangkabau. Ayahnya merupakan seorang keturunan ulama tarekat di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatra Barat dan ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi. Ia lahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902. Namanya, Athar berasal dari bahasa Arab, yang berarti "harum". Athar lahir sebagai anak kedua, setelah Rafiah yang lahir pada tahun 1900. Sejak kecil, ia telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah, Abdurrahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau yang bertahan pasca-Perang Padri. Sementara itu, ibunya berasal dari keturunan pedagang. Beberapa orang mamaknya adalah pengusaha besar di Jakarta.

Pergerakan politik ia mulai sewaktu bersekolah di Belanda dari 1921-1932. Ia bersekolah di Handels Hogeschool (kelak sekolah ini disebut Economische Hogeschool, sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam), selama bersekolah di sana, ia masuk organisasi sosial Indische Vereeniging yang kemudian menjadi organisasi politik dengan adanya pengaruh Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker. Pada tahun 1923, Hatta menjadi bendahara dan mengasuh majalah Hindia Putera yang berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.[16] Pada tahun 1924, organisasi ini berubah nama menjadi Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia; PI).

Saat-saat mendekati Proklamasi pada 22 Juni 1945, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) membentuk panitia kecil yang disebut Panitia Sembilan dengan tugas mengolah usul dan konsep para anggota mengenai dasar negara Indonesia. Panitia kecil itu beranggotakan 9 orang dan diketuai oleh Ir. Soekarno. Anggota lainnya Bung Hatta, Mohammad Yamin, Achmad Soebardjo, A.A. Maramis, Abdulkahar Muzakir, Wahid Hasyim, H. Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso.

Kemudian pada 9 Agustus 1945, Bung Hatta bersama Bung Karno dan Radjiman Wedyodiningrat diundang ke Dalat (Vietnam) untuk dilantik sebagai Ketua dan Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Badan ini bertugas melanjutkan hasil kerja BPUPKI dan menyiapkan pemindahan kekuasaan dari pihak Jepang kepada Indonesia. Pelantikan dilakukan secara langsung oleh Panglima Asia Tenggara Jenderal Terauchi. Puncaknya pada 16 Agustus 1945, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok hari dimana Bung Karno bersama Bung Hatta diculik kemudian dibawa ke sebuah rumah milik salah seorang pimpinan PETA, Djiaw Kie Siong, di sebuah kota kecil Rengasdengklok (dekat Karawang, Jawa Barat).

Penculikan itu dilakukan oleh kalangan pemuda, dalam rangka mempercepat tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Malam hari, mereka mengadakan rapat untuk persiapan proklamasi Kemerdekaan Indonesia di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol 1 Jakarta. Sebelum rapat, mereka menemui somabuco (kepala pemerintahan umum) Mayjen Nishimura untuk mengetahui sikapnya mengenai pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepahaman sehingga tidak adanya kesepahaman itu meyakinkan mereka berdua untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan itu tanpa kaitan lagi dengan Jepang.

Pada 17 Agustus 1945, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia dia bersama Soekarno resmi memproklamasikan kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pukul 10.00 WIB. Dan keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945, dia resmi dipilih sebagai Wakil Presiden RI yang pertama mendampingi Presiden Soekarno.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta amat gigih bahkan dengan nada sangat marah, menyelamatkan Republik dengan mempertahankan naskah Linggarjati di Sidang Pleno KNIP di Malang yang diselenggarakan pada 25 Februari – 6 Maret 1947 dan hasilnya Persetujuan Linggajati diterima oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sehingga anggota KNIP menjadi agak lunak pada 6 Maret 1947.

Pada saat terjadinya Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Hatta dapat meloloskan diri dari kepungan Belanda dan pada saat itu dia masih berada di Pematangsiantar. Dia dengan selamat bersama dengan Gubernur Sumatra Mr. T. Hassan tiba di Bukittinggi.

Dan sekarang 2 orang terpenting dalam perjuangan kemerdekaaan Indonesia berdiri di sini di hadapanku , aku gugup setengah mati karena kesalahan dan kekikukan apapun yang aku lakukan dapat mengubah pandangan mereka terhadapku, aku berjalan dengan sedikit tersendat karena gugup, kami pun segera diberi arahan tentang tugas dan misi yang akan kami jalankan, ternyata kami ditugaskan untuk membuat kesepakatan  perdamaian dengan Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang didalangi oleh mantan jaksa agung Negara Indonesia Timur (NIT), Soumokil bertujuan untuk melepaskan wilayah Maluku dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tanggal 25 April 1950, para anggota RMS memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS), dengan J.H Manuhutu sebagai Presiden dan Albert Wairisal sebagai Perdana Menteri, dengan para menteri antara lain C.H.R. Soumokil, D.j. Gasperz, J. Toule, S.J.H Norimarna, J.B Pattiradjawane, P.W Lokollo, H.F Pieter, A. Nanlohy, Dr.Th. Pattiradjawane, Ir.J.A. Manusama, dan Z. Pesuwarissa.

Dr. leimena ditunjuk sebagai pemimpin dari misi ini, ia ditunjuk langsung oleh Presiden Soekarno dan Moh.Hatta karena ia memiliki ikatan kuat dengan Maluku, aku dan beberpa pemuda yang ada dalam ruangan tadi ternyata ditunjuk sebagai pengawal Dr. Leimena dan satu temannya, Setelah rincian misi diberikan kami pun langsung pergi ke pelabuhan dan berlayar menuju maluku, untuk mencapai maluku kami memerlukan waktu 6 hari 6 malam, kami sampai di pelabuhan ambon pada dini hari, saat sampai di sana kami tidak disambut dengan baik oleh pasukan pemberontak, saat kami turun dari kapal mereka langsung mendorong kami dan membawa kami pergi ke sebuah  tenda kecil dan memeriksa badan kami dengan kasar untuk memastikan kami tidak membawa senjata, setelah pemeriksaan selesai kamipun dibawa ke sebuah rumah kecil tidak jauh dari pelabuhan , salah satu penjaga memberitahukan kami bahwa perundingan akan dilakukan di pagi hari, mereka menyuruh kami untuk istirahat, karena perjalanan yang panjang dengan kapal yang kuran enak, kami pun tidur terlelap hingga pagi.

Di pagi hari kami pun dibangunkan oleh salah satu penjaga, kami pun langsung bergegas mandi dan bersiap siap untuk pergi ke kantor pemerintahan ambon untuk berunding, setelah kami selesai salah satu penjaga membawa kami ke sebuah mobil militer untuk pergi ke pusat kota, pusat kota ambon hanya berjarak sekitar 30 menit dari pelabuhan kami pun sampai dengan cepa.

Setelah sampai di kantor pemerintahan kota ambon kami pun disambut oleh dalang dari pemberontakan ini, yaitu Soumokil, mukanya sedikit masam dan seperti tidak mengharapkan kedatangan kami, Dr. Leimena dan satu temnanya di tuntun untuk masuk ke dalam ruangan perundingan sedangkan kami para pengawal hanya diperkenankan menunggu di luar, sebenarnya aku ingin protes karena tugasku sebagai pengawal yang seharusnya selalu berjaga di dekat Dr. Leimena, tetapi dengan kedaan seperti ini patuh adalah pilihan yang terbaik.

30 menit telah berlalu saat Dr.leimena masuk ke ruang perundingan, tiba-tiba terdegar suara bentakan dan pintu ruangan perundingan terbuka dengan dibanting, dari sana keluar Dr.leimena diikuti dengan Soumokil dengan muka merah padam  marah, ia memaki Dr.leimena yang tidak pro pembentukan Repubilk Maluku Selatan padahal ia merupakan orang asal maluku selatan, Soumokil terus memakinya pengkhianat maluku, mungkin soumokil merayu dan membujuk Dr.leimena untuk bergabung dengannya tetapi Dr.Leimena menolaknya.

Dr. Leimena pun hanya diam tidak membantah makian dari Soumokil, mungkin ia merasa sedikit bersalah, tetapi ia pun menanggapi perkataan Soumokil dengan bilang bahwa tujuan pendirian RMS ini hanya keegoisan Soumokil saja yang ingin mendapat keuntungan dan harta lebih, Soumokil yang tidak bisa membantah perkatan Leimena itu pun beralasan ia sudah benar-benar ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mendirikan negara RMS yang pro Belanda ia juga marah besar dan mengusir kami ia menyuruh penjaga disana untuk membawa kami kembali ke pelabuhan dan menaikan kami kembali ke kapal kami untuk dikembalikan ke Djakarta. Dari sini terlihat sekali bahwa perundingan perdamainan telah gagal.

Alhasil kamipun diangkut kembali ke mobil militer yang membawa kami ke pusat kota, Setelah sampai pelabuhan kami pun langsung dipaksa untuk menaiki kapal untuk kembali ke Djakarta. Misi kami untuk menciptakan sebuah perdamaian memang telah gagal, tetapi setidaknya kami pulang dengan utuh.

Sesampainya di Djakarta kami pun melaporkan kegagalan misi kami kepada Presiden Soekarno dan Moh.Hatta, kami pun di bebas tugaskan dan di kirim kembali ke rumah kami masing masing, tetapi itu bukan akhir dari upaya perdamaian tersebut upaya perdamaian dilanjutkan dengan mengirim para pendeta, politikus, dokter, wartawan, tetapi upaya itupun  sia-sia bahkan mereka tidak dapat bertemu langsung dengan pengikut Soumokil sekalipun.

Gagalnya usaha perdamaian membuat pemerintah akhirnya melakukan operasi militer untuk membersihkan gerakan RMS dengan mengerahkan pasukan Gerakan Operasi Militer (GOM) III yang dipimpin oleh seorang kolonel bernama A.E Kawilarang, yang menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur.

Operasi penumpasan RMS dimulai pada tanggal 14 Juli 1950, dan pada tanggal 15 Juli 1950, pemerintahan RMS mengumumkan bahwa Negara Republik Maluku Selatan berada dalam bahaya. Pada tanggal 28 September 1950, pasukan militer yang diutus untuk menumpas pemberontakan menyerbu ke daerah Ambon, dan pada tanggal 3 November 1950, seluruh wilayah Ambon dapat dikuasai termasuk benteng Nieuw Victoria yang akhirnya juga berhasil dikuasai oleh pasukan militer Republik Indonesia.

Karena jatuhnya Ambon ke tangan TNI, pusat pemerintahan RMS dan Angkatan Perang RMS berpindah ke Pulau Seram. Pada tahun 1952, J.H Manuhutu yang tadinya menjabat sebagai presiden RMS tertangkap di pulau Seram, sedangkan sebagian pimpinan RMS lainnya melarikan diri ke Negara Belanda. Setelah itu, RMS kemudian mendirikan sebuah organisasi di Belanda dengan pemerintahan di pengasingan (Government In Exile).

Soumokil, yang bertahan di hutan-hutan pulau Seram akhirnya ditangkap pada tanggal 2 Desember 1963. Pada Tahun 1964, Soumokil dimajukan ke meja hijau dan dijatuhi hukuman mati yang dilaksanakan  pada tanggal 12 April 1966 dan berlangsung di Pulau Obi yang berada di wilayah kepulauan Seribu di sebelah Utara Kota Jakarta.

Akhirnya pemberontakan RMS pun berhasil ditumpas dan maluku selatan bebas dari tekanan Soumokil dan para komplotannya .

Comments

Popular posts from this blog

"Masalah Yang Tak Terduga" ditulis oleh Ganendra Radithya Narda